Tuesday, January 27, 2015 0 comment(s)

Mengigau sepanjang hari.

Puisi adalah kegelisahan. Kau bisa menanggalkannya, lalu kehilangan. Atau bisa menjadi igauanmu semalam yang terus kau ingat.

Rindu adalah bencana atau sebaliknya, kau menemukan namaku di antara serakan barang-barang itu.
Seperti rembulan dan sisi gelapnya, ia menghadirkan dengan menjadi ketiadaan. Rindu, sadar embun pagi pada daun bukan hanya sisa dingin semalam.

Malam ini akan kujerat angin malam, agar ragaku berhembus di atas alismu.
Aku akan menjadi pikiranmu yang lengang. sebab ingatanmu sedekat-dekatnya keadaanku.

Tak ada penantian yang sia-sia, jika nanti tak membuahkan apa-apa, kita sudah punya ketabahan yang mengakar. Kerinduan kita tak mungkin keliru, karena perasaan yang mengendapkannya bekerja dengan benar.

Kegelisahanku adalah puisi, yang membuatku mengigau. Sepanjang hari.
Tuesday, January 13, 2015 0 comment(s)

Gadis Berpayung dan Hujan Bulan Januari

Ada yang menarik dari hujan di bulan januari.
Hujan turun lebat. Hujan turun layaknya keajaiban, dan aku menikmati keajaiban itu bersama seorang gadis berpayung.

Gadis berpayung yang berdiri di ujung barat jalan itu. Berdiri. Mematung. Menunggu sesuatu.

Gadis berpayung itu menawariku berteduh di bawah payungnya.
Senyumnya yang manis, wajahnya yang tulus membuat siapapun tak kuasa menjauh darinya. Membuatku tak kuasa menolak tawarannya. Membuatku merasa nyaman, seperti telah lama mengenalnya.

"Ini bisa melindungimu dari panasnya matahari atau dari basahnya rintik hujan." katanya pelan, memecah keheningan.
Suaranya yang lembut menyadarkanku, bahwa gadis berpayung ini, bukan sekadar gadis yang membawa payung.

Aku sadar, kamulah gadis itu.


Yogyakarta, 13 Januari 2015.
Ditulis ditemani kopi beraroma hujan, dengan rasa rindu.
Saturday, December 27, 2014 0 comment(s)
Beberapa hal semestinya dihentikan. Seperti perang dan kebencian.

Cinta bisa menghadirkan bahagia, tapi orang bisa mati karenanya juga. Ada yang menganggapnya seperti tumpukan sampah yang seharusnya dibersihkan, tapi aku menganggap seperti bau sehabis hujan yang kita hidu dari bangku yang berhadapan.

Aku mencintaimu dengan segala kedhaifanku. Mencintai segala kesederhanaanmu. Seperti bagaimana kamu menutup wajah atau caramu menahan tawa. Tentang bagaimana kamu membenarkan kerudungmu atau caramu khawatir akan keadaanku.

Aku menyayangimu. Aku tak tahu sudah berapa kali mengatakannya. Aku hanya ingin kau merasa ada yang begitu menyayangimu. Tolong jangan larang aku mengatakannya.

Menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tapi percayalah bahwa usahamu itu tak akan sia-sia. Aku pernah berujar bahwa aku hanya menuntut kau bahagia, kau tahu itu.

Segala tentangmu adalah perayaan terhadap rasa rindu. Perjumpaan kita hanya akan melahirkan rindu-rindu baru yang tak akan hilang lekang oleh waktu.

Tak seperti perang dan kebencian, perasaan kita tak semestinya dihentikan.

Aku menyayangimu.

Yogyakarta, 26 Desember 2014.
Friday, December 19, 2014 0 comment(s)

Desember

Menanti.
Seperti pelangi.

Setia.
Menunggu hujan reda.



Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember.
Dan senyum kamu.
Saturday, December 6, 2014 0 comment(s)
Cinta tidak menyakiti, tapi tentu saat mencintai kita bisa merasakan sakit. Tidak ada kehendak menyakiti dalam cinta, kamu tahu itu.

Aku mencintaimu dengan segala kelemahan dan kedhaifanku. Kau tahu, manusia bisa saja lemah, tapi ia memilih untuk belajar kuat demi yang dicintai. Dan aku, memilih untuk jadi lemah dan bodoh.

Apa yang disatukan Tuhan mustahil dipisahkan manusia. Tapi sebaliknya mudah dan pasti akan terjadi. Semoga Tuhan berkenan menyatukan kita.

Aku menyadari diriku sendiri, siapalah aku yang menginginkanmu untuk diriku sendiri, siapalah aku yang hendak memaksamu tunduk. Kita bukanlah tentang siapa yang lebih superior dari siapa.

Pikiranku disesaki dengan keegoisan. Keegoisan yang sebenarnya tidak berhak ada dan tidak boleh ada. Perasaan-perasaan konyol yang muncul karena rasa ingin memiliki yang terlalu. Aku sadar, aku tak berhak banyak menuntut. Karena aku hanya boleh menuntut kamu untuk bahagia.

Aku ingin kau ada, saat ini, sekarang, dan nanti. Bahagia bersamaku di suatu masa yang masa depan masih terlampau jauh. Memandang matamu yang menembus kebohongan. Juga senyummu yang menyembuhkan kegetiran.
Wednesday, December 3, 2014 0 comment(s)

25 November.

25 November, jadilah hari baik untuk kami. 

Di bawah hujan, 
di atas kursi yang berhadapan, 
kami mengukir doa.

Kami mengucapkan pengharapan,
serta kata-kata yang saling menguatkan.

25 November, semoga tiada tahun tanpa mengenang,
mengenang manisnya hari itu. 
:)

dikutip dari: http://astri-rahmadina.blogspot.com/2014/12/25-november.html

0 comment(s)
selalu memikat.


membunuh saya di tempat.
 
;