Wednesday, May 14, 2014 0 comment(s)

Kamu, Hypotenusa Konstanta Teorema Takdir


Malam datang diiringi dengan hujan yang tampak malu-malu, kadang ia dipuja, kadang ia dihujat. Hujan baru menampakan dirinya, setelah matahari telah meninggalkan lebih dulu. Seperti yin dan yang, mereka dikatakan saling melengkapi, padahal saling bertolak belakang. Keduanya bertentangan, tapi keduanya saling melengkapi dan membutuhkan. Juga mengetahui satu sama lain. Lebih dari itu, untuk mengetahui siapa diri mereka sebenarnya. Tak akan ada yang tahu dinginnya hujan jika tak ada panas matahari.

Malam itu, ada yang dicari di tengah keramaian, meloncat sana-sini, berkutat dan berkecamuk dalam pikiran. Juga berlalu-lalang. Bukan tentang siapa, tapi apa.

Takdir, dia adalah sebuah rumusan hidup. Setiap takdir memiliki pola dan rumusannya sendiri. Seolah hidup ini harus menemukan sebuah penyelesaian atas jawaban rumusan yang dinamakan takdir itu. Rumusan takdir tak akan menghasilkan apa-apa. Tentunya tanpa angka, variabel, dan konstanta. Takdir, diciptakan Tuhan dengan variabel yang tak menentu, tetapi diimbangi dengan konstanta yang juga dengan teatrikal hidup manusia.

Tiap-tiap manusia memiliki konstanta yang berbeda. Besar? Kecil? Banyak? Itu bukan masalah. Berbedanya konstanta inilah yang memunculkan sebuah peluang perhitungan aritmetika yang menghitung keberhasilan sebuah persamaan sesuai dengan syarat-syarat numerous-nya.

Mungkin angka-angka tak cukup menafsirkan jalan takdir manusia, mungkin dibutuhkan seonggok kalimat—meskipun itu sederhana—yang di dalamnya tentu berisi angka-angka, konstanta dan rumusan yang rumit. Namun, terkadang itu tidaklah berakhir dengan jawaban pasti, mungkin hanya suatu pembenaran atas rasio, rasa, dan akal manusia yang tentunya mudah ditutupi oleh tipu muslihat. 

Dibutuhkan waktu untuk mengkonsepkan sesuatu, mengeksakan imajiner, atau memvisualisasikan yang riil. Mencari bukti atas konsep yang kompleks dari teorema-teorema yang ada. Tak semudah membuat syair indah bak pujangga atau nada-nada indah layaknya musisi.

Kadang muncul dalam pikir, apakah aku harus dengan semudah itu menyerah pada kalkulasi yang terjadi apabila konstantanya sama dengan nol? Ketika rumusan itu tidak sesuai dengan garis takdir yang ditentukan. Menyandarkan keyakinan pada sebuah keraguan atau menepiskan ragu dan meyakinkan diri, menjadikan konstantanya mengubah rumusan persamaan menjadi teorema yang tepat.

Tapi aku tersadar, siapa aku. Seperti sebuah titik di antara 3 titik pada teorema phytagoras. Satu titik berasal dari diriku sendiri serta satu titik berasal dari Tuhan. Teorema yang dapat menghubungkan kedua titik itu, pada sebuah titik yang dicari. Membentuk sebuah segitiga siku-siku.

 Tidak mampu dijelaskan, bahkan dengan angka atau kata sekalipun. Menghubungkan dua titik pada satu titik puncak. Namun, ada suatu mengganjal. Sebuah Hypotenusa yang merupakan garis terjal yang miring, memisahkan kedua titik itu dengan titik puncak. Tidak, bukannya tidak bisa. Hanya saja sulit. Namun, ketika titikku dan titik yang diberikan Tuhan menyatu membentuk sisi, serta titik yang diberikan Tuhan dan titik puncak itu sudah bersisi, maka dengan mudah hypotenusa itu menjadi penghubung titikku pada titik yang kucari itu.

Rumit, sulit, ya begitulah. Banyak teorema pengantar tidur, hanyalah berakhir pada bunga tidur. Tapi lebih dari itu, itu adalah penjelasan bagi takdir. Penuh jeratan rutinitas, variabel yang berubah-ubah, monoton, juga hypotenusa yang terjal. Sama dan kontinu.

Ya, tapi takdir membutuhkan jawaban pasti atas rumusannya itu. Dengan konstanta yang mampu mengubah hasil akhir kesebandingan, mengubah kalkulasi takdir menjadi sesuatu yang pasti. Seakan-akan menyeringai “Atas nama perjuangan, aku adalah konstanta dan hypotenusa terjal.”

Kau butuh perjuangan untuk menentukan konstantamu, kau harus berjuang menaklukanhypotenusamu, untuk kepastian takdirmu. Sulit, tapi bisa. Lelah? Begitulah. Seperti yang orang-orang hebat sering bicarakan, “Saya baru akan lelah, ketika jasad ini sudah asyik-masyhuk berbaring di dalam tanah.

Wednesday, January 8, 2014 0 comment(s)

Pro-Kontra Moyes?

kekalahan tiga laga beruntun di 2014 dan tidak pernah menang sekalipun adalah mimpi buruk bagi pendukung Manchester United. Banyak dari mereka mengeluarkan sumpah-serapah pada sang manager. Ini membuat membagi dua kubu, Pro-Moyes dan Kontra-Moyes. Baik, dalam tulisan ini saya memihak sebagai Pro-Moyes.

Saya bosan ketika manager baru itu terus-menerus disalahkan "Para Penonton Layar Kaca". Caci-maki, sumpah serapah, kalimat sarcasm dari orang-orang pathethic yang munafik terus tertuju padanya. Seolah mereka lupa bahwa United dibawah Moyes menjalani 12 laga tanpa kalah dan 6 kemenangan beruntun di laga teranyar sebelum dikalahkan Spurs.

Lucu memang, ketika sepak bola yang seharusnya bisa dinikmati dan menimbulkan kebahagiaan bagi para pencintanya, justru membuat degradasi moral. Mereka yang mencaci Moyes seolah lupa fakta bahwa manajer 50 tahun itu juga manusia, pasti membuat kesalahan. Jika Anda sendiri marah dihina dengan kata-kata dari kebun binatang.

Saya akan kembali menekankan kata ‘transisi’. Memang, sudah lebih dari 20 tahun MUFC dianggap sebagai salah satu klub terbaik Eropa dan dunia. Ketika mendadak dianggap bak tim medioker, saya paham banyak fan kecewa. Lantas, mau terus-terusan mengungkit kejayaan di masa lalu? Baiklah, saya juga akan ungkit kejatuhan MUFC di masa lalu.

Ketika Sir Matt Busby pensiun, berapa lama waktu yang dibutuhkan MUFC untuk kembali juara Liga Inggris? Terakhir kali MUFC era Sir Busby kampiun Inggris itu pada musim 1966/67, baru juara lagi musim 1992-93. 26 tahun! Bukan waktu yang singkat.

Pertanyaan lain. Sejak Sir Busby pensiun, butuh berapa lama MUFC mendapatkan Sir Alex Ferguson? Sir Busby pensiun tahun 1969, sementara Sir Alex masuk 1986. 17 tahun! Bukan waktu yang singkat.

Jadi apakah artinya 26 tahun dan 17 tahun itu kalau bukan "transisi"? sudahlah, tak perlu munafik.



Mereka yang beropini "Moyes kan diwarisi pemain2 juara EPL? ini salah moyes!"
Duhbro, lo yang cuma penonton layar kaca, dengan laga hebatnya lo bisa menentukan kesalahan manager. Lo tau seluk-beluk manager? Mungkin main Football Manager atau FIFA Manager belum tentu jago.
Saya akui, wibawa Sir Alex terlalu kuat, baik bagi fans maupun pemain. Hal inilah yang menyulitkan mereka untuk adaptasi dengan manager baru mereka. Sudahlah, jangan terlalu berpatok pada Sir Alex.

Oke, saya ulas balik sejarah. Sir Busby juga mewarisi skuat keren saat pensiun. Kurang hebat apa lagi coba sosok-sosok seperti Tony Dunne, Nobby Stiles, Alex Stepney, Denis Law, hingga the glorious George Best. Faktanya, sulit juara juga kan?

Tapi memang, melupakan sesuatu yang terlanjur melekat pada diri kita, sangat sulit kita lupakan.

Tahukah Anda, away fans bernyanyi: "every single one of us stand by David Moyes" di Stadium of Light tadi pagi? Mereka, fans yang nonton di stadion aja masih tak kenal lelah mendukung, masa fans layar kaca seperti Anda tidak mau seperti itu.

"The club stood by me. Your job now is to stand by your new manager." -Sir Alex Ferguson
#InMoyesWeTrust
@ilhamprim


Sunday, September 8, 2013 2 comment(s)

Perempuan Mimpiku



Saat kepalaku masih menceracau dan masih penuh pikiran ini, aku sedang duduk manis di lorong sekolah, dengan buku yang terbuka di tangan kanan, serta telepon genggam di tangan kiri. Saat itu, kepalaku menceracau tentang mimpiku semalam.
            Tadi malam, aku bermimpi bertemu seorang perempuan di sebuah cafĂ©. Dalam mimpi itu, aku merasa mengenalnya. Merasa pernah menemuinya sebelumnya. Merasa telah jatuh cinta padanya. Namun kurasa dia tak mengenaliku. Maka kuurungkan niat untuk menyapanya.
            Padahal ini hanya sebuah mimpi.
            Siang itu, di lorong sekolahku, aku tak mencari siapa-siapa. Aku hanya berkutat pada buku dan telepon genggam yang berada pada jemari-jemariku. Namun kelihatannya perempuan itu sedang mencari siapa-siapa. Aku? Ah, aku hanya bisa menatapnya dari sini saja. Dari sudut pandang yang jauh. Dari lorong depan kelasku.
            Perempuan itu, semakin menunjukkan kemiripan dengan perempuan di mimpiku.
            Aku tak bisa menahannya. Aku tak bisa memendamnya. Aku bertekad menghampirinya. Mendekatinya. Dan secara tiba-tiba, kakiku melangkah dengan sendirinya, ke arah perempuan itu. Mendekatinya.
           
Kini aku di dekatnya. Kini aku berada tepat di hadapannya.
            Ku beranikan untuk berkata, kuberanikan lidahku untuk bergerak. Hingga akhirnya, aku tak sanggup menahannya.
“Kamu, perempuan yang ada di mimpiku.”
“Ya?” jawabnya dengan menyunggingkan senyuman manisnya dari bibir tebalnya.
“Kamu, kamu perempuan yang selalu ada di mimpi-mimpiku kan?”
“Maaf?” Wajah cantiknya tak mampu menutupi rasa herannya.
“iya, kamu perempuan yang selalu ada dalam mimpiku. Bahkan membuat tidurku tidak lelap. Bahkan beberapa kali membuatku tidak tidur.”
            Perempuan itu semakin heran, hingga akhirnya ia melangkahkan kakinya menjauh dariku. Ia pergi. Meninggalkanku sendiri di depan lorong kelasku. Aku terpaku pada tempatku sambil menatapnya melangkah menjauh pergi.
            Perempuan itu, perempuan yang selalu ada dalam mimpiku. Tapi aku yakin, ia tidak sekedar ada di mimpiku. Tidak hanya dalam mimpi. Tidak hanya siang ini. Aku mengenalinya.
            Perempuan dalam mimpiku itu, bukan perempuan biasa. Dia perempuan dengan realisme magis, perempuan melankolis, perempuan metaforis, perempuan yang membuat dadaku kembang kempis, dan sifat-sifat berakhiran –is lainnya yang pantas disematkan padanya.
            Aku hanya terpaku menatap punggungnya yang menjauh pergi dan perlahan menghilang. Aku hendak mengejarnya, menyusulnya yang turun melalui tangga. Namun sudah terlambat. Perempuan itu menghilang.
            Pikiranku semakin berkecamuk, semakin tidak mengerti siapa perempuan itu.
            Lamunanku terhenti ketika telepon genggamku berdering, menandakan pesan singkat masuk dari nomor yang kurasa aku kenal:
“Ya, aku adalah perempuan yang ada dalam mimpi-mimpimu.”

Yogyakarta, 4 September 2013.
0 comment(s)

Puisi Tentangmu

Pemerhati



Ada suatu yang lucu
Di bangku ujung situ
Seseorang yang malu-malu
Dengan rindu tersenyum merah jambu

Aku hanya bisa mengeluh
Mengapa tatapanmu begitu penuh
Juga membuat hatiku luluh
Meskipun aku hanya memandangmu dari jauh.

Memperhatikanmu membuatku terkenang
Membuat mataku berkunang-kunang
Yang terbalut dengan rasa senang
Seperti hangatnya gelap bertemu terang 


Kepergian

Aku tak mengenalmu sebelumnya.
Kamu tak mengetahuiku sebelumnya.
Aku hanya bertanya-tanya pada mereka.
Mereka memberitahuku, siapa kamu sebenarnya.
Seorang wanita naturalis.
Seorang wanita metaforis dan melankolis
Seorang wanita dengan realisme magis.
Yang mampu membuat dadaku kembang kempis.

Kau membuatku mengerti sebuah perjuangan.
Kau memaksaku menaruh harapan.
Tapi yang kurasa hanya kehancuran.
Dan aku, hanya mengucapkan selamat datang pada kepergian


Monday, September 2, 2013 0 comment(s)

Ketika Hati Mulai Mati.

Coklat akan terasa seperti balsam.
Gula bahkan terasa masam.
Hari-hariku kembali kusam.
Ketika cinta memaksa untuk diam.

Aku tak sanggup berbuat apa-apa.
Aku hanya bisa merangkaikan kata-kata.
Tanpa tahu, bagaimana untuk mengungkapkannya.
Ketika sayang sudah memuncak di dada.

Aku akan rindu dengan senyummu yang manis.
Senyum dengan realisme magis.
Senyum yang naturalis.
Dan senyum yang membuat dadaku kembang kempis.

Tapi perubahan mengubah segalanya.
Aku telah berbeda.
Kau juga berbeda.
Dan kau tak punya rasa yang sama.

Aku hanya bisa memandangmu beberapa meter dari tempatmu berada.
Aku tak pernah sanggup menahan rasa dalam dada.
Meskipun aku tahu, kau tak punya rasa yang sama.
Tapi percayalah, aku akan menjadi pengagum............rahasia.

Mungkin aku terlalu menaruh harapan.
Harapan untuk mendapat balasan.
Namun aku hanya bisa memendam dan memperhatikan.
Dan aku selalu terbiasa untuk jatuh cinta sendirian.

Tapi percayalah, rasa sayangku untukmu terlalu kuat, dan itu cukup untuk kita berdua.
Meskipun aku tahu, kau tak punya rasa yang sama.
Wednesday, August 21, 2013 1 comment(s)

Untukmu.

Orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa menaruh harapan.
Orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa mengharap balasan.
Orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa memperhatikan.
Orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa jatuh cinta sendirian..

Bulan purnama malam ini, mengingatkanku padamu.
Mengingatkanku pada pandanganmu.
Mengingatkan cerahnya wajah yang terpancar dari wajahmu.
Ah, mungkin aku terlalu terhipnotis olehmu.

Mengenalmu, adalah kesempurnaan.
Memandangmu, adalah keindahan.
Dicintaimu, adalah kesempurnaan.
Meskipun aku tahu, dunia ini tak ada kesempurnaan.

Aku tahu, kamu selalu memperhatikanku.
Tapi kamu tak tahu, aku selalu memperhatikanmu.
Ya, aku terlalu peduli kepadamu.
Atau mungkin...terpesona padamu.

Aku tahu, cinta tak mengenal kata lebay atau alay pula.
Ya, karena mereka milik logika.
Logikaku telah mati dan buta.
Karena cinta, sudah begitu berkuasa.

Jatuh cinta diam-diam hanya bisa mengeluh.
Mengeluh tentangnya yang berhasil membuat hatinya penuh.
Tapi percayalah, kamu telah membuatku luluh.
Meskipun aku hanya bisa memperhatikanmu dari jauh.

Percayalah, rasa sayang ini terlalu kuat untuk kita berdua.
Dan aku, mungkin hanya perlu berani untuk memulai.

Yogyakarta, 21 Agustus 2013.
Tuesday, August 13, 2013 0 comment(s)

Syair Rindu Dariku Untukmu

Ilham Primahendra, 13 Agustus 2013.

Aku bukanlah penyair hebat.
Aku bukan orang yang dengan mudah merangkai kalimat.
Aku bukanlah penulis yang melahirkan tulisan yang dahsyat.
Dan aku...bukanlah manusia yang kuat.

Aku rasa semuanya telah berubah.
Tulisan ini, bukanlah tulisan yang indah.
Namun, tulisan ini didedikasikan untuk kamu yang membuat hariku menjadi lebih indah.
Untuk kamu yang telah berhasil membuatku.....salah tingkah.

Aku tak mengenalmu sebelumnya.
Kamu tak mengenalku sebelumnya.
Aku hanya bertanya-tanya pada mereka.
Mereka memberitahuku, siapa kamu sebenarnya.

Aku merasa telah lama mengenalmu.
Mengenalmu sebelum kita bertemu.
Sebelum aku pertama kali melihat senyummu.
Senyum indah yang menggodaku.

Aku merasa senyum itu, senyum yang manis.
Senyum dengan realisme magis.
Senyum yang naturalis.
Dan senyum yang membuat dadaku kembang kempis.

Aku semakin tidak paham dengan apa yang ku rasakan.
Kamu mengingatkanku dengan sebuah arti perjuangan.
Kamu meyakinkanku untuk terus menaruh harapan.
Kamu juga yang membuatku merasakan sebuah rasa rindu......yang tertahan.

Aku harap kamu tau.
Aku harap kamu membaca syairku.
Syair-syair rindu dariku.
Untukmu......
 
;