Dear my loyal readers,
Bulan-bulan ini, sebenarnya adalah bulan dimana gue
(seharusnya) menikmati liburan panjang. Ya, gue sudah terbebas dari berbagai
kesibukan dan rutinitas yang biasa gue jalani. Tapi, semua ekspektasi dan
angan-angan gue tentang liburan yang bakal damai, tentram dan asik tidak
terealisasikan.
Ya, gue lagi menunggu. Tetap setia menunggu, dan akan terus
seperti itu. Menunggu ini, beda dari menunggu yang lain. Bukan, gue bukan lagi
nunggu ditembak gebetan. Gue nunggu…………….hasil Ujian Nasional. Anda benar,
Ujian Nasional yang beberapa minggu belakangan ini sering muncul di televisi
karena berbagai kekacauannya itu sudah berakhir. Tapi tidak bagi hasilnya.
Hasilnya baru bisa gue tahu awal bulan depan. Selama nunggu, gue terus menerus
bertanya-tanya pada Tuhan, apakah hasilnya nanti akan menjadi representasi dari
hasil usaha gue selama ini. Gue gak tau.
Dan, ya, Menunggu itu Menyebalkan.
Sama seperti menunggu-menunggu yang lainnya, menunggu diberi
kepastian juga menyebalkan. Perasaan digantungin dan perasaan penasaran
terus-menerus muncul.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “Dia kapan nembak ya?” atau “Tanggal
yang pas buat nembak tanggal berapa ya?” atau bahkan “Ukuran dadanya berapa ya?”
akan silih berganti bermunculan.
Menunggu apalagi setelah menunggu ditinggalkan itu lebih menyebalkan. Dan
menyakitkan, tentunya. Sama seperti ketika gue charge handphone gue dan gue
tinggal. Setelah 2 jam, gue berharap battery handphone gue penuh, tapi yang ada
malah menerima kenyataan bahwa; charger rusak dan battery low. Sakit. Banget.
Ngomong-ngomong soal gantung-menggantung, ternyata gak hanya
dilakukan kaum Adam. Salah besar kalo semua pelaku penggantung atau pemberi
harapan palsu adalah cowok. Sekali lagi, gue bilang itu salah.
Cewek juga berpotensi menggantung perasaan gebetan. Apalagi
kalo gebetannya: malu nembak. Sama
seperti yang dialami temen gue. Gak tau cowoknya yang malu nembak atau ceweknya
yang ilfeel dan udah nemuin yang baru. Intinya, mereka gagal jadian.
Saran gue sih, daripada malu nembak atau ilfeel duluan, mending kalian urungkan
niat buat pacaran. Karena pacaran gak semulus paha girlband.
Pasti ada banyak
hal yang menyakitkan. Ujung-ujungnya berantem atau bahkan bisa putus. Akhirnya
hanya ada penyesalan dan kemarahan. Dan galau juga tentunya. #JombloNyariTemen
Coba deh lo berkaca pada temen-temen lo yang sering kotorin
Timeline yang isinya hanya galauin kenangan bersama mantan.
Emang sih, kenangan itu sulit dilupakan. Tapi “kebiasaan”
lebih sulit lagi untuk dilupakan.
Sama kayak gue, biasanya tiap pagi gue bangun, mandi dan
siap dengan seragam sekolah dan siap untuk bertemu gebetan, sorry, maksud gue bertemu
guru di sekolah. Atau kebiasaan diucapkan “selamat pagi, cantik. Have a nice
day” setiap pagi, atau diingetin “kamu udah makan belum? Jangan lupa makan ya,
aku gak mau liat kamu sakit” kalo belum makan atau diucapkan “Get Well Soon,
sayang. Obatnya diminum yah, biar cepet sembuh.” sama mantan.. Masih inget
rasanya gimana?
Tapi, kebiasaan-kebiasaan dan kenangan-kenangan itu telah
pergi bersama rasa cuek dan jutek.
One thing that you have to remember, masih banyak kok
kenangan-kenangan dan kebiasaan-kebiasaan baru di depanmu.
Anehnya, bagaimanapun “menyebalkan” dan “menyakitkannya” rasa
yang manusia terima dan bahkan kita sudah tau nanti akan “sakit”, manusia tidak
akan pernah kapok untuk memperjuangkan cintanya. For me, that’s the power of
love.
Semuanya, tergantung bagaimana hati dan pikiran kita yang
memilih. Intuisi, logika dan perasaan manusia pasti akan peka terhadap semua
permasalahan atau pilihan-pilihan yang dihadapi.
Tinggal bagaimana kita yang
menyikapinya. Dan jangan lupa untuk rutin berkonsultasi pada Sang Maha Cinta
dan Maha Penguasa, Tuhan.
Thanks for
being my inspiration in this post:
Adi Pramudiana,
Aditya Yuda, Ariq Athallah, Egi Alfirza, Fian Febry, Sahisnu Wanditadiva, Ghina
Pasha, and Della (my loyal readers on somewhere who idk).
Thanks for my
loyal readers, I always wait your request.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact